// //

Wisata Sejarah Pura Mandara Giri Semeru Agung

Pura Mandara Giri Semeru Agung konon adalah salah satu pura terbesar di Indonesia. Pura ini memiliki nama lain Pura Kahyangan Jagat (tempat pemujaan Hyang Widi Wasa) oleh umat Hindu. Oleh karena itu, di hari-hari tertentu atau hari besar Hindu, pura ini ramai dikunjungi. Apalagi saat ulang tahun pura (Piodalan) tersebut banyak pengunjung umat Hindu dari Pulau Dewata. Bahkan bisa sampai puluhan bus yang berjajar di depan pura saat hari raya umat Hindu.

Pintu masuk Pura Mandara Giri Semeru Agung setelah menaiki tangga.
Menurut mitosnya, pemilihan letak dan lokasi pura ini di kaki gunung Semeru (tepatnya di Kecamatan Senduro, Lumajang) dilatari oleh kisah pemindahhan Gunung Semeru dari India ke Pulau Jawa. Diletakkan di tanah yang posisinya agak tinggi. Sehingga siapa saja yang berkunjung harus menaiki bangunan tangga yang telah disediakan.

Pemilihan lokasi pura di lambung Gunung Sumeru tidaklah sembarangan. Ada konsep kuat melatarinya, dan ini sangat terkait dengan sumber-sumber susastra-agama yang ada. Antara lain disuratkan, ketika tanah Jawa masih menggang-menggung, belum stabil, Batara Guru menitahkan para Dewa memenggal puncak Gunung Mahameru dari tanah Bharatawarsa (India) ke Jawa. Titah itu dilakonkan para Dewa. Puncak Gunung Mahameru dipenggal, diterbangkan ke tanah Jawa. Jatuh di sisi barat, tanah Jawa berguncang. Bagian timur berjungkat, sedangkan bagian barat justru tenggelam.

"....Potongan puncak Gunung Mahameru itu pun digotong lagi ke rah timur. Sepanjang perjalanan dari barat ke bagian timur tanah Jawa, bagian-bagian puncak Gunung Mahameru itu ada yang rempak. Bagian-bagian yang rempak itu kelak tumbuh menjadi enam gunung kecil masing-masing Gunung Katong (Gunung Lawu, 3.265 m di atas permukaan laut), Gunung Wilis (2.169 m), Gunung Kampud (Gunung Kelud, 1.713 m), Gunung Kawi (2.631 m), Gunung Arjuna (3.339 m), Gunung Kemukus (3.156 m).

Adapun puncak Mahameru itu kemudian menjadi Gunung Sumeru (3.876 m). Inilah puncak tertinggi Pegunungan Tengger sekarang -- bahkan menjadi gunung tertinggi seantero Indonesia -- yang membentuk poros dengan Gunung Bromo atau Gunung Brahma. Sejak itu tanah Jawa menjadi stabil, tak lagi goyang, menggang-menggung. Di lambung Gunung Semeru itulah sejak tahun 1992 resmi berdiri megah Pura Mandara Giri Semeru Agung.

Tirtayatra.com
Tentu saja panteon pemindahan Gunung Mahameru di tanah Hindu menjadi Gunung Semeru -- begitu nama otentik yang tersuratkan, namun orang-orang kini terbiasa menyebut Semeru -- di tanah Jawa (Nusantara) itu disuratkan jauh sebelum Pura Mandara Giri Semeru Agung dibangun. Kisah tua itu tersurat benderang dalam kitab Tantupanggelaran berbahasa Jawa Tengahan, digubah dalam bentuk prosa. Apa yang menarik dari kisah pemindahan gunung itu?

Panteon itu jelas menunjukkan persebaran Hindu paham Siwaistis dari tanah India ke negeri Nusantara yang berpusat di tanah Jawa. Dalam pandangan Hindu Siwaistis yang berpengaruh besar di Nusantara, termasuk Bali hingga kini, Dewa tertinggi adalah Siwa. Dewa Siwa bersemayam di gunung tertinggi. Itu berarti di puncak Gunung Mahameru (Himalaya) dalam alam India, atau puncak Gunung Sumeru dalam alam Nusantara. Teks-teks Purana India yang tergolong kitab Upaweda (penjelasan lebih lanjut atas Weda) memang menyuratkan Tuhan Yang Mahatunggal bersemayam di puncak Mahameru -- dikenal pula dengan nama Gunung Kailasa atau Gunung Himawan, yang bersalju abadi.

Di puncak gunung yang dikenal juga sebagai pusat padma raya itu Siwa, yang juga dikenal sebagai Parwataraja Dewa, menurunkan ajaran-ajaran-Nya kepada sakti-Nya, Dewi Parwati, Dewi Gunung. Ajaran-ajaran itu biasanya disuratkan dalam bentuk tanya jawab antara Hyang Siwa dengan Dewi Parwati, kemudian dicatat dalam berbagai Yamala, Damara, Siwasutra, maupun kitab Tantra. Lebih lanjut, kitab-kitab yang menguraikan perihal ajaran yoga memberikan tuntunan sangat benderang bahwa bagi seorang sadhaka, dia yang teguh kukuh dan penuh disiplin menjadikan dirinya sebagai sarana dasar pelaksanaan yoga, puncak gunung itu ada di sahasrara padma, yakni di puncak ubun-ubun kepala manusia. Dengan begitu, puncak gunung tiada ubahnya dengan kepala manusia, tempat yang sangat penting sekaligus sangat patut dijaga kesucian..." sumber dari Babad Bali.

Luas areal seluruhnya pura ini mencapai 3 Hektar. Arsitektur bangunannya seperti kebanyakan pura di Bali tradisional yang masih mengikuti zaman Majapahit. Sehingga, gaya arsitekturnya dipengaruhi oleh filsafat dan ajaran dalam agama Hindu. Ya, menjadi landasan dari semua tata ruang, bangunan, bahkan bahan bangunannya.

patung gajah
Pura Mandara Giri Semeru Agung adalah pura termegah. Sebab itulah, masyarakat setempat sering menjulukinya sebagai "Makkah" nya umat Hindu di Indonesia. Pura ini tak pernah sepi dari upacara keagamaan umat Hindu.Di dalam pura ini terdapat banyak bangunan pendukungnya. Seperti pendapa pura, bale gajah, candi bentar, candi kurung, bale pertandingan, dan dapur khusus.

Berkunjung kesini, selain untuk liburan juga bisa untuk belajar sejarah.